Ashabul Jannah

Kisah Ashabul jannah (Pemilikpemilik Kebun) yang tertera dalam Surat al-Qalam ayat 17-3 3, yang intinya karena Ashabul jannah itu tidak mau bersedekah kepada fakir miskin, akibatnya Allah Swt. menghancurkan kebun milik mereka tersebut.

“Sesungguhnya Kami telah mencoba mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah mencoba pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita. Lalu mereka panggil-memanggil di pagi hari, ‘Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.’ Maka, pergilah mereka saling berbisik-bisik. ‘Pada hari ini, janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu.’ Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya). Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, ‘Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?’ Mereka mengucapkan, ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.’ Lalu, sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela mencela. Mereka berkata, ‘Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.’ Mudah-mudahan, Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dan Tuhan kita. Seperti itulah azab (dunia). Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui.” (QS. al-Qalam (68]: 17-33).

Sebuah pendapat mengatakan bahwa ashabul jannah dalam ayat ini adalah pemilik-pemilik kebun dari penduduk yang bertempat tinggal di kampung Dharwan, negeri Yaman. Dikatakan bahwa pemilik kebun itu bersaudara. Kebun itu merupakan warisan dari bapak mereka yang ahli sedekah. Ketika kebun itu diserahkan kepada anak-anaknya, maka mereka berubah, tidak mengikuti penilaku bapak mereka. Mereka tidak mau memberikan hasil kebun itu kepada fakir miskin. Maka, sebagai balasannya, Allah menurunkan azab kepada mereka.

Kisah dan azab yang menimpa mereka ini sebagaimana terdapat di dalam tafsir firman Allah Swt., “ketika mereka bersumpah. “ Artinya, bersumpah di antara mereka. “Bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik hasilnya dipagi hari.” Yaitu, pada waktu subuh, sekiranya orang fakir dan orang yang membutuhkan tidak melihat mereka, sehingga mereka tidak harus memberikan hasil kebun itu kepadanya. Oleh karena itu, Allah menurunkan bencana pada mereka, di mana kebun itu menjadi hangus, tidak ada yang tertinggal dan tidak bisa diambil manfaatnya sedikit pun.

“Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur. Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap guuita. “ Artinya, seperti malam yang gelap gulita tanpa cahaya. “Lalu mereka panggil-memanggil dipagi hari.” Mereka bangun dari tidur, sebagian dari mereka memanggil sebagian yang lain, seraya berkata, “Pergilah di waktupagi mi ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.” Artinya:

“Berangkatlah pagi-pagi ke kebunmu lalu petiklah hasilnya sebelum datang waktu siang dan sebelum datang pula orang yang meminta-minta.”

“Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan.” Mereka saling berkata di antara mereka dengan cara rahasia. “Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu.” Mereka berjalan pergi ke kebun itu dengan niat buruk mereka, padahal sebenarnya mereka mampu memberikan sebagian hasilnya kepada orang miskin.

Ikrimah dan Syi’by mengatakan, “Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi orang-orang miskin.” Artinya, mereka tidak menyukai kedatangan orang-orang miskin. “Tatkala mereka melihat kebun itu. “ Yakni, ketika mereka telah sampai ke kebun itu dan mereka melihat apa yang telah terjadi dengan kebun mereka, di mana sebelumnya mereka melihat kebun itu penuh dengan buah-buahan yang baik-baik, lalu ternyata kebun itu berubah, dikarenakan jeleknya niat mereka. Kemudian mereka berkata, “Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya). Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka.” Yaitu, seseorang dari mereka yang paling adil dan paling baik. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, dan selain keduanya. Ia (orang yang paling baik di antara mereka) mengatakan, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?” Di antara mereka ada yang mengatakan, “Hendaklah kamu mengatakan insya Allah.” Ada pula yang mengatakan, “Hendaklah kalian mengatakan dengan baik sebagai ganti dari ucapan buruk kalian.”

“Mereka mengucapkan, ‘Maha suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.” Maka, mereka menyesal, namun penyesalan itu sudah tidak bermanfaat lagi bagi mereka.

“Seperti itulah azab (dunia). “ Artinya, “Demikianlah Kami menyiksa orang yang menentang perintah Kami dan tidak mau bersedekah kepada makhluk Kami, yaitu orang-orang yang membutuhkannya.”

“Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar.” Yakni lebih besar dan lebih pasti ditegakkan hukumnya daripada siksa di dunia. ‘jika mereka mengetahui.”

Cukuplah surat al-Qalam ayat 17-33 ini menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk tidak meremehkan, menelantarkan, atau bahkan menghina orang-orang fakir dan miskin. Cukup besar ternyata azab yang diberiikan Allah Swt. kepada orang yang tidak ingin menyantuni kaum fakir dan miskin. Bukan azab di akhirat saja (baca misalnya QS. alMudatsir [74]: 42-44, di antara orang yang masuk Neraka Saqar adalah mereka yang tidak mau memberi makan orang miskin), tetapi tampak jelas pula azab di dunia. Karena itu, tak heran bila Rasulullah Saw.. pernah berpesan kepada istrinya: “Cintailah orang miskin dan akrablah dengan mereka, supaya Allah pun akrab juga dengan engkau pada hari kiamat (nanti).” (HR. al-Hakim).

Satu Tanggapan ke “Ashabul Jannah”

  1. Orang2 miskin adalah harta warisan nabi. Dgn harta ini salah jalan menujuh surga terbentang.

Tinggalkan Balasan