Beranda > Pedoman Shalat, Shalat Berjamaah > Membaca Sami’Allahu Liman Hamidah

Membaca Sami’Allahu Liman Hamidah

S. MEMBACA SAMI’ ALLAHU LIMAN HAMIDAH

# Dari Anas:
Dan apabila imam membaca Sami’ allahu Liman Hamidahu (Allah Maha Mendengar terhadap orang yang memuji-Nya), maka katakanlah: Allahumma Rabbana wa Laka al-Hamdu (Ya Allah Tuhan kami, bagi-Mu lah segala pujian).” (HR. Bukhari)

# Dari Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Ahmad dan lain-lain, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Apabila imam membaca Sami’ allahu Liman Hamidahu (Allah Maha Mendengar terhadap orang yang memuji-Nya), maka katakanlah: Allahumma Rabbana wa Laka al-Hamdu (Ya Allah Tuhan kami, bagi-Mu lah segala pujian). Barangsiapa bacaannya bersamaan dengan bacaan malaikat, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Al-Bukhari, bab Adzan, pasal Keutamaan Allahumma Rabbana wa Laka al-Hamdu)

Berdasarkan hadits di atas, sebagian ulama berpendapat bahwa makmum tidak disyariatkan membaca Sami’allahu Liman Hamidahu (Allah Maha Mendengar terhadap orang yang memuji-Nya). Dan apabila dia mendengar kalimat tersebut dari imam, dia harus membaca Rabbana wa Laka al-Hamdu (Wahai Tuhan kami, bagi-Mu lah segala pujian).

Pernyataan yang mengatakan bahwa makmum tidak disuruh membaca Sami’ allahu Liman Hamidahu melainkan hanya Rabbana wa Laka al-Hamdu saja, telah dijawab oleh an-Nawawi dengan bersandar kepada pendapat sahabat: Hendaklah kamu membaca Rabbana wa Laka al-Hamdu setelah kamu mendengar bacaan Sami’ allahu Liman Hamidahu. Bacaan Sami’ allahu Liman Hamidahu ini dibaca secara khusus sebagaimana Nabi selalu membacanya sebagai imam secara jahri. Dan memang menurut sunnah, kalimat ini dibaca secara jahri. Sebaliknya kalimat Rabbana wa Laka al-Hamdu tidak pernah didengar mereka, karena Nabi membacanya secara sirri.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” menunjukkan agar setiap orang yang shalat itu membaca tasbih dan tahmid (Sami’ allahu Liman Hamidahu dan Rabbana wa Laka al-Hamdu), walaupun dia seorang makmum, karena contoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti itu.

Para sahabat mengetahui bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”, telah mengharuskan mereka mengikuti contoh Nabi secara mutlak. Ketentuan tersebut, di antaranya adalah mengenai bacaan Sami’ allahu Liman Hamidahu, dimana dalam hal ini, mereka telah melakukannya secara baik, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak perlu menyuruh mereka lagi. Berbeda dengan bacaan Rabbana wa Laka al-Hamdu, karena mereka belum mengenalnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya.

Al-Albani menjelaskan dalam buku Sifat Shalat Nabi:
“Hadits di atas tidaklah menunjukkan bahwa makmum tidak boleh membaca doa sami’allahu liman hamidah seperti yang dibaca imam sebagaimana halnya hadits ini juga tidak menunjukkan bahwa imam tidak boleh mengucapkan doa rabbana wa lakal hamd seperti yang dibaca makmum dalam gerakan bangkit dari rukuk. Akan tetapi hadits ini menerangkan bahwa bacaan rabbana wa lakal hamd dilakukan setelah imam mengucapkan sami’allahu liman hamidah. Hal ini dikuatkan oleh keterangan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca sami’allahu liman hamidah ketika menjadi imam. Juga berdasarkan pernyataan umum dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalatlah kamu seperti kamu sekalian melihat aku shalat”. Dengan demikian, makmum boleh mengucapkan sami’allahu liman hamidah dan lain-lain seperti yang diucapkan oleh imam.”

Imam Suyuthi juga memberikan penjelasan dalam risalahnya yang berjudul “Bantahan terhadap mereka yang mencela ucapan sami’allahu liman hamidah” yang termuat dalam kumpulan buku fatwanya Al-Hawi lil Fatawa 1/529.

About these ads
  1. syihab jalil
    5 Juli 2010 pukul 23:14:38

    Ass, semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmatNya kepada kita semua, aku mau nanya nih mas, uda lama aku nyari jawabannya tapi ga ketemu, mohon bantuannya.
    ” mengapa sewaktu i’tidal bacaannya berbeda dengan takbir yang lain, apakah ada sejarah atau kisahnya, atau yang lainnya, makasih atas jawabannya di tunggu.

    • muhammad subhan
      1 November 2013 pukul 15:54:11

      JAWABAN DARI PERTANYAAN ANDA ADA di kitab tausyek syarahnya kitab fathul qorib

  2. 2 Agustus 2012 pukul 18:56:20

    Diantara bacaan samiAllahhulimanhamidar atau samiAllahhulimanhamidah

  1. 9 Juni 2012 pukul 6:41:49

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 90 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: