Beranda > Kisah Teladan > Nelayan Mukmin Dan Nelayan Kafir

Nelayan Mukmin Dan Nelayan Kafir

Pada zaman dulu, ada dua orang nelayan, seorang mukmin dan seorang lagi kafir. Pada suatu hari kedua-duanya turun ke laut untuk menangkap ikan. Semasa menebar jala, nelayan kafir menyebut nama tuhan berhalanya. Hasil tangkapannya amat banyak. Berlainan pula dengan nelayan mukmin. Apabila menebar jalanya, si-mukmin itu menyebut nama Allah. Hasilnya tidak ada seekor pun ikan yang tersangkut pada jaringnya. Hingga ke lewat senja, nelayan mukmin tidak berjaya mendapat sebarang ikan manakala si-kafir itu kembali dengan membawa ikan yang sangat banyak.

Meskipun pulang dengan tangan kosong, namun nelayan mukmin itu tetap bersabar serta redha dengan apa yang Allah takdirkan. Si-kafir yang membawa berbakul-bakul ikan pulang dengan rasa bangga dan bongkak.

Malaikat yang melihat keadaan nelayan mukmin ini berasa simpati lalu mengadu kepada Allah. Allah memperlihatkan kepada malaikat tempat yang disediakan olehNya untuk nelayan mukmin itu; iaitu sebuah syurga. Berkata malaikat “Demi Allah, sesungguhnya tidak memberi erti apa-apa pun penderitaan di dunia ini jika dia mendapat tempat di syurga Allah.”

Setelah itu Allah memperlihatkan tempat yang disediakan untuk nelayan kafir. Berkata malaikat “Alangkah malangnya nasib si-kafir. Sesungguhnya tidak berguna langsung apa yang dia dapat di dunia dulu sedangkan tempat kembalinya adalah neraka jahannam.”

Moral & Iktibar

Kediaman mukmin adalah di syurga manakala kediaman kafir adalah di neraka.
Dunia adalah syurga orang kafir.
Kekayaan dan kemewahan di dunia tidak semestinya berkekalan di akhirat.
Kesusahan orang mukmin di dunia tidak seberapa jika dibandingkan dengan kenikmatan yang disediakan di syurga.
Kesenangan orang kafir di dunia tak berbaloi jika dibandingkan dengan azab seksa yang disediakan di neraka.
Kesenangan atau kesusahan seseorang bukan menjadi kayu ukur bagi keredhaan Allah; yang menjadi penentu ialah keimanan terhadapNya.
Kesusahan di dunia bukan bermakna Allah tidak menyukai seseorang.
Begitu juga kemewahan yang Allah berikan kepada seseorng bukan bermakna Allah meredhainya.
Redha di atas takdir Ilahi adalah sifat mukmin sejati.
Jangan berputus asa, kecewa atau sedih apabila melihat orang kafir senang dan mewah dalam kehidupan di dunia
Keimanan seseorang adalah lebih mahal daripada dunia dan isinya.
Apalah maknanya kemewahan jika tidak mensyukuri dan beriman dengan Allah.

Iklan
  1. 14 September 2011 pukul 9:01:39

    Mendingan mukmin akh dari pada kafir,,,
    hehhhehehe…

  2. khambali
    14 November 2011 pukul 11:35:56

    ” niat emang segala senjata buat prjalanan..
    Bismillahirrahmaanirrahiimi..
    Mwakili sparuh hdup qta..

  3. Lexy
    16 Februari 2012 pukul 11:30:49

    betul sekali, terkadang kenikmatan dunia itu membuat manusia terperdaya, padahal semuanya cuma semu dan sesaat,
    sedangkan perjuangan untuk mendapatkan ridho Allah terasa sangat panjang dan sulit, padahal itulah yang hakiki.
    wallahu’alam bishawab

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: