DIALOG IMAM ABU HANIFAH

Posted in Renungan dengan kaitan (tags) , , , on 15 Desember 2009 by eidariesky

Imam Abu Hanifah pernah bercerita : “Ada seorang ilmuwan besar dari kalangan bangsa Romawi, tapi ia orang kafir. Ulama-ulama Islam membiarkan saja, kecuali seorang, yaitu Hammad guru Abu Hanifah, oleh karena itu dia segan bila bertemu dengannya. Pada hari kedua, manusia berkumpul di masjid, orang kafir itu naik mimbar dan mau mengadakan tukar pikiran dengan siapa saja, dia hendak menyerang ulama-ulama Islam. Di antara shof-shof masjid bangun seorang laki-laki muda, dialah Abu Hanifah, dan ketika sudah berada dekat depan mimbar, dia berkata :”Inilah saya, hendak tukar pikiran dengan tuan”. Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap merendahkan diri karena mudanya. Namun dia pun angkat bicara :”Katakan pendapat tuan!”. Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, lalu bertanya :”Masuk akalkah bila dikatakan bahwa ada pertama yang tidak apa-apanya sebelumnya?”. “Benar, tahukah tuan tentang hitungan?”, tanya Abu Hanifah. “Ya”. “Apa itu sebelum angka satu?”. “Ia adalah pertama, dan yang paling pertama. Tak ada angka lain sebelum angka satu”, jawab sang kafir itu. “Demikian pula Allah Swt”. “Di mana Dia sekarang? Sesuatu yang ada mesti ada tempatnya”, tanya si kafir tersebut. “Tahukah tuan bagaimana bentuk susu?”. “Ya”. “Adakah di dalam susu itu keju?”. “Ya”. “Di mana, di sebelah mana tempatnya keju itu sekarang?”, tanya Abu Hanifah. “Tak ada tempat yang khusus. Keju itu menyeluruh meliputi dan bercampur dengan susu!”, jawab ilmuwan kafir itu. “Begitu pulalah Allah, tidak bertempat dan tidak ditempatkan”, jelas Abu Hanifah. “Ke arah manakah Allah sekarang menghadap? Sebab segala sesuatu pasti punya arah?”, tanya orang kafir itu. “Jika tuan menyalakan lampu, ke arah manakah sinar lampu itu menghadap?”, tanya Abu Hanifah. “Sinarnya menghadap ke semua arah”. “Begitu pulalah Allah Pencipta langit dan bumi”. “Ya! Apa yang sedang Allah kerjakan sekarang?”. “Tuan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dari atas mimbar, sedangkan saya menjawabnya dari atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya mohon tuan turun dari atas mimbar dan saya akan menjawabnya di tempat tuan”, pinta Abu Hanifah. Ilmuwan kafir itu turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas. “Baiklah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa pekerjaan Allah sekarang?”. Ilmuwan kafir mengangguk. “Pekerjaan-Nya sekarang, ialah bahwa apabila di atas mimbar sedang berdiri seorang kafir seperti tuan, Dia akan menurunkannya seperti sekarang, sedangkan apabila ada seorang mu`min di lantai, dengan segera itu pula Dia akan mengangkatnya ke atas mimbar, demikian pekerjaan Allah setiap waktu”. Para hadirin puas dan begitu pula orang kafir itu.

Kekuatan Sabar dan Shalat

Posted in Pendidikan, Petuah, Renungan, Tausyiah dengan kaitan (tags) , , , , on 9 Desember 2009 by eidariesky

Sabar adalah suatu kekuatan yang lahir dari lubuk hati, yang kemudian mempengaruhi jasmani dan rohani, sehingga lahirlah kesabaran jasmani dan kesabaran rohani.
Dimaksudkan dengan kesabaran jasmani ialah kesabaran dalam melaksanakan kewajiban yang melibatkan anggota tubuh, seperti sabar dalam peperangan sabar dalam menahan sakit atau cobaan yang menimpa cobaan yang menimpa anggota tubuh.
Dimaksudkan dengan kesabaran rohani ialah kesabaran yang berkaitan dengan kemampuan menahan keinginan hawa nafsu, seperti menahan kemarahan. menahan syahwat dan sebagainya.
Dalam Al-Qur’an Allah memerintahkan menggunakan kesabaran, baik kesabaran jasmani maupun kesabaran rohani, karena kesabaran itu mempunyai kekuatan yang luar biasa.

Di bawah ini penulis kutipkan beberapa ayat yang berkenaan dengan kesabaran:

Artinya :
1- Wahai Nabi (Muhammad), kabarkanlah semangat para mu’min untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir, karena orang-orang kafir itu adalah kaum yang tidak mengerti. (al-Anfal [8]: 65).

2- Sekarang Allah telah meringankan kamu, karena dia mengetahui bahwa ada kelemahan padamu. Maka jika di antara kamu ada seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh), dan jika diantara kamu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al-Anfal [8]: 66).

3- Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan s]bar dan shalat. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar (Al-Baqarah [2]: 153).

4- Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenamya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (Al-Baqarah [2]: 154).

5- Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kepalaran, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah [2]: 155).

6- (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, “Inna lillahi wa innaa ilaihi raji’un”. (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. (Al-Baqarah (2): 156).

7- Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]: 157).

Tafsir Mufradat:
SHABR: Sabar, berasal dari kosakata: shabara – Yashbiru – shabran, yang berarti: menahan, berani, bersabar.
Dalam Al-Qur’an, kata shabar diulang sebanyak 103 kali yang tersebar dalam 46 surat dan 101 ayat.

Menurut al-Ashfahani, kata “shabr” mempunyai arti yang berbeda-beda sesuai dengan objeknya.
Sebagian mufassir memberikan definisi “shabr” sebagai berikut: Shabr ialah menahan dari atau tabah dalam menghadapi kesulitan atau cobaan yang berat, baik cobaan jasmani maupun cobaan rohani.

MAUT: bentuk masdar (infinitif), berasal dari kosakata : maata – yamuut – mautan. Yang berarti hilangnya kekuatan dari sesuatu, lawan dari “hayyin” (hidup). Menurut Muhammad Ibrahim, maut ialah terpisahnya kehidupan dari sesuatu, lalu menjadi mati. Menurut al-Ashfahani, kematian itu merupakan akhir dari kehidupan di dunia yang fana ini untuk menuju kehidupan yang abadi. Kehidupan abadi itu tidak dapat ditempuh kecuali dengan kematian. Kematian adalah pintu masuk ke dalam kehidupan yang sempurna. Kesempurnaan hidup hanya dapat ditemukan di akhirat nanti. Tetapi kematian tidak dapat direncanakan, kapan harus mati, kapan mengakhiri kehidupan ini, sebab kematian itu hanya di tangan Allah SwT. Hanya Dialah yang menentukan mati dan hidup. Jika ajal sudah datang, tiada seorangpun dapat menundanya, atau mempercepatnya satu detik pun. (Yunus ([10] :49).

Sebab Nuzul ayat:
Menurut Ishaq bin Rahawaih dalam musnadnya, dari Ibni ‘Abbas ia berkata : setelah Allah SwT mewajibkan kepada kaum Muslimin agar setiap satu orang Muslim dapat mengalahkan sepuluh orang kafir, mereka merasa keberatan. Karena kesabaran kaum Muslimin sudah menurun, maka Allah SwT menurunkan beban kewajibannya, sehingga menjadi, setiap satu orang Muslim harus dapat mengalahkan dua orang kafir.

Lalu turunlah ayat:

“… Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh…. (Al-Anfal [8]: 65). Lihat as-Siyuthi, 1954: 113).

Ayat tersebut memberikan pengertian bahwa kesabaran dalam peperangan pun mempunyai kekuatan yang luar biasa, dimaksudkan kesabaran dalam peperangan adalah keberanian dan keteguhan. Karena kesabaran kaum Muslimin sudah menurun, maka kekuatan melawan musuh pun menurun.

Munasabah
Pada ayat sebelumnya, telah dijelaskan bahwa Allah SwT, telah cukup sebagai pelindung bagi Nabi Muhammad saw, dan bagi kaum Muslimin. Kemudian pada ayat berikutnya (ayat 65 dan ayat 66), dijelaskan bahwa kaum Muslimin harus dapat mengalahkan musuh. Syaratnya ialah harus mempunyai kesabaran yang tinggi, tanpa kesabaran tidak mungkin dapat mengalahkan musuh, sebab kekuatan itu terletak pada kesabaran, yaitu keberanian dan tabah menghadapi segala macam cobaan.

Apabila memiliki kesabaran yang tinggi maka kekuatan melawan musuh menjadi luar biasa, dua puluh orang Muslim yang sabar, dapat mengalahkan dua ratus musuh, dan seratus orang Muslim yang sabar dapat mengalahkan seribu musuh, yaitu satu banding sepuluh. Karena kesabaran kaum Muslimin sudah menurun, maka seratus orang Muslim hanya dapat mengalahkan dua ratus musuh. Hanya satu banding dua.
Sekarang kaum Muslimin lebih lemah lag., Sebagai contoh negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim di Timur Tengah, dapat dikalahkan dengan mudah oleh Israel yang jumlahnya lebih sedikit. Yang demikian itu karena imannya, kesabarannya, pengetahuan dan teknologinya sangat lemah.

Menurut Muhammad Rasyid Ridho,. Nabi saw diperintahkan agar mendorong kaum Mukminin untuk berperang untuk membela agama Allah, yakni untuk mempertahankan kebenaran dan keadilan, dan membasmi kebatilan dan kezaliman. Maka harus meperkuat diri lahir dan batin, jasmani dan rohani. Jasmani ialah kekuatan persenjataan dan pasukan, sedang rohani ialah kesabaran dan keimanan yang tinggi sehingga menjadi tabah dalam menghadapi segala macam cobaan dan penderitaan, sehingga jumlah yang sedikit dapat mengalahkan musuh yang jumlahnya lebih besar.

Pada ayat tersebut digambarkan : seratus kaum Mukminin yang sabar dapat mengalahkan seribu musuh atau satu orang Mukmin yang sabar dapat mengalahkan sepuluh orang musuh. Yang demikian itu karena orang-orang kafir pada waktu itu tidak menguasai strategi perang, sedang kaum Mukminin menguasainya dengan baik, juga mempunyai keyakinan bahwa membela agama Allah merupakan sarana untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, meraih keridaan Allah SwT, dalam menegakkan sunnah-Nya yang adil, dan memperbaiki kesejahteraan hamba-Nya, memperbaiki akhlak, menjaga hukum-hukum-Nya serta memperkuat persatuan kaum Muslimin yang abadi. Membela agama Allah SwT, paling tidak akan memperoleh dua keuntungan, yaitu : kemenangan dan kebahagiaan di dunia dna di akhirat.

Adapun orang-orang kafir dalam segala usahanya, hanya untuk meraih keduniaan dan hanya ingin memenuhi hawa nafsu dan syahwatnya, karena mereka mengingkari hari kemudian bahkan mengingkari Allah SwT dan lebih mencintai dunia

“Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi) manusia yang paling tamak akan kehidupan (dunia), bahkan (lebih tamak) dari orang-orang musyrik. Masing-masing dari mereka ingin diberi umur seribu tahun padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari azab. Dan Allah Maha Melihat apayang mereka kerjakan” (Al-Baqarah [2] : 96).

Lima ayat dari surat Al-Baqarah [2], yaitu ayat 153 sampai dengan ayat 157, merupakan satu kesatuan, baik dalam nadanya, susunan kata-kata dan kalimatnya, maupun maknanya. Permulaan ayat mengarah kepada akhir ayat dan penghabisannya kembali kepada permulaannya. Hal ini memberikan isyarat bahwa lima ayat tersebut diturunkan sekaligus, tidak terpisah. Nada ayat tersebut memberikan pengertian, bahwa lima ayat tersebut diturunkan sebelum ayat yang memerintahkan berperang, dan sebelum disyariatkan Allah untuk berjihad.
Di dalamnya terkandung isyarat bahwa orang-orang Mukmin mengalami cobaan dan musibah, seperti: mati, sakit, rasa takut, kelaparan dan sebagainya.
Sunnah (peraturan) Allah berlaku terhadap hamba dan makhluknya, tiada seorang pun dapat mengubah atau mengganti sunnah-Nya.
Cobaan yang menimpa seseorang berbeda dengan cobaan yang menimpa orang banyak. Cobaan yang menimpa orang banyak sangat besar pengaruhnya, dan berakibat merusak susunan kehidupan masyarakat, karena kerusakan yang menimpa mereka lebih besar. Cobaan yang menimpa orang banyak itulah yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah [2] ayat 153 -157.

Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak selamanya cobaan itu berakibat buruk, melainkan di belakangnya terdapat hikmah yang sangat besar, yaitu mengingatkan manusia agar kembali kepada Allah SwT, kembali kepada Nur Ilahi, dengan memperbanyak ibadah dan meningkatkan takwa kepada-Nya.

Ayat-ayat tersebut membangkitkan kaum Mukminin dan menghapus rasa takut untuk menghadapi perang membela agama Islam, agama Allah SwT, apabila diperangi musuh-musuh Islam. Ayat-ayat tesebut juga memberikan isyarat bahwa dihadapan kaum Mukminin akan muncul suatu cobaan yang sangat dahsyat, yang harus dihadapi dengan kekuatan lahir dan batin, jasmani dan rohani, dengan kesabaran dan shalat dengan memohon rahmat dan hidayah kepada Allah SwT.

Dimaksudkan dengan “sabar” ialah tidak berputus asa dalam berusaha meraih kemenangan dan keuntungan serta tabah dalam menghadapi segala macam kesulitan dan cobaan, sedang yang dimaksudkan dengan shalat ialah suatu ibadah tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, serta dengan bertawajjuh (menghadap) kepada Allah SwT dan memohon ma’unah (pertolongan) kepada Allah SwT, agar diberi kekuatan lahir dan batin, sebab kekuatan itu hanya dari Allah SwT.

Kesabaran adalah karunia dari Allah SwT, yang sangat besar, dan merupakan sifat yang sangat terpuji, sehingga dalam Al-Qur’an disebutkan berkali-kali.

Dalam surat Luqman, Allah berfirman:

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting”. (Luqman [31]: 17).

Pada ayat tersebut Allah memerintahkan kepada kaum Muslimin agar mendirikan shalat, menyuruh berbuat kebaikan, meninggalkan kemungkaran dan bersabar dalam meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebab dalam shalat terkandung berbagai macam doa dan dzikir, sehingga orang yang mendirikan shalat, hatinya menjadi tenang, dan dekat kepada Allah SwT. Karena kedekatannya kepada Allah SwT, maka doanya terkabul cepat atau lambat, dan terjaga dari berbuat keji dan mungkar, sebagaimana diungkapkan dalam firman-Nya:

“Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-’Ankabuut [29]: 45).

Pada ayat lainnya Allah berfirman:

“Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Fushshilat [41] : 35).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa hanya orang-orang yang sabar dan orang-orang yang beruntung besar, yang dianugerahi sifat-sifat yang baik. Pada ayat yang lain Allah berfirman:

“Katakanlah (Muhammad): Wahai hamba-hambaku yang beriman, tertakwalah kepada Tuhanmu. Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa hisab.” (Az-Zumar [39] : 10).

Karena sabar itu sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan dan keberuntungan, baik di dunia maupun di akhirat, maka Al-Qur’an dalam berbagai ayat menganjurkan kepada orang-orang Mukmin agar bersabar dalam menghadapi segala macam cobaan dan kesulitan, atau ujian, dalam menghadapi keinginan dalam menghadapi ibadah dan sebagainya, misalnya:

a) Dalam menghadapi musibah Allah berfirman:

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap musibah yang menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting”. (Luqman [31]: 17).

b) Dalam menghadapi fitnah, Allah berfirman:

“Maka bersabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya ….. (Thaha [2] : 130).
Pada ayat tersebut Allah SwT, memerintahkan kepada orang-orang Mukmin agar bersabar dalam menghadapi fitnah dan hendaknya dapat menahan diri dari kemarahan, sebab kemarahan itu tidak dapat menyelesaikan masalah, adapun cara menegakkan kesabaran antara lain dengan memperbanyak dzikir di waktu pagi dan sore.

c) Dalam menghadapi takdir (kepastian) Allah, misalnya: takdir kematian, kelahiran dan sebagainya, Allah SwT, memberikan tuntunan sebagai berikut:

“Dan bersabarlah dalam menunggu kepastian Tuhanmu, sebab sesungguhnya kamu berada dalam pengawasan kami dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun (tidur)”. (Ath-Thuur [52]: 48).

d) Dalam menghadapi kegiatan ibadah, sebab ibadah itu juga memerlukan kesabaran apalagi ibadah yang memerlukan jasmani, rohani dan dana, seperti ibadah haji. Maka memerlukan kesabaran yang tinggi, sebab ibadah haji menghadapi berbagai masalah yang melelahkan. Dalam hal ini, Allah berfirman:

“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada orang yang sama dengan Dia (yang wajib disembah). (Maryam [19]: 65).

e) Sabar dalam menghadapi cita-cita, hajat atau keinginan yang luar biasa, sebab keinginan tanpa kesabaran dapat menimbulkan kerusakan. Dalam hal ini Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah [2]: 153).
Adapun mengenai shalat, syariat Islamiyah memandang sebagai ibadah yang paling besar dan paling agung. Maka dalam Al-Qur’an perintah mendirikan shalat disebutkan berkali-kali, dan ditegaskan bahwa shalat itu dapat menjaga manusia dari perbuatan keji, sebagaimana disebutkan dalam firman:

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu yaitu al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikahlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-’Ankabuut [29] : 45).

Dalam suatu Hadits, ditegaskan bahwa shalat itu merupakan salah satu rukun Islam yang kelima:

“Dari Abdullah bin ‘Umar, ia berkata: Nabi saw bersabda: Islam dibangun di atas lima (rukun), yakni: Bersaksi bahwa tiada Tuhan yang pantas disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menunaikan haji ke Baitul Haram, dan menunaikan puasa Ramadlan. (Diriwayatkan oleh Muslim : 21/16 : 32).

Para ulama sependapat bahwa sabar dan shalat mempunyai kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi segala macam cobaan dan ujian, karena itulah perintah bersabar dan mengerjakan shalat disebutkan berkali-kali dalam Al-Qur’an, dan ditegaskan bahwa orang-orang yang sabar selalu dekat di sisi Allah SwT dan selalu mendapatkan pertolongan dari Allah SwT, sebagaimana diungkapkan dalam firman-Nya:

( … … Sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang yang sabar). (al-Baqarah [2]: 153).l

Karunia ALLAH untuk orang yang bertaqwa

Posted in Dakwah, Petuah, Renungan, Tausyiah dengan kaitan (tags) , , on 5 Desember 2009 by eidariesky

islam17
Karunia apa saja yang alllah berikan kepada kita jika kita bertakwa? Jika kita kaji dalam al qur’an maka karunia Alllah kepada orang bertakwa antara lain :
1. Keberkahan (Barokah)
Firman Alllah :

“jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa pastilah akan Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit.” QS.7 Al A’rof : 96
“Dan dikatakan kepada orang-orang bertakwa : ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?’ mereka menjawab: (Alllah telah menurunkan) kebaikan (berkah). Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampong akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang-orang yang bertakwa.” QS. 16 An Nahl : 30

2. Memperoleh Rahmat
Firman Alllah :
“.. dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” QS. 7: 156
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Alllah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Alllah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian ….” QS. 57 Al Hadid : 28
3. Kegembiraan dunia dan akhirat

“(wali-wali Allah, yaitu) orang-orang yang beriman dan bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. QS. 10 yunus : 63-64

4. Umur yang panjang

“…. (yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taat lah kepada-Ku, niscaya Alllah akan mengampuni dosa-dosamu dan menangguhkan (memanjangkan umur) kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya apabila telah dating ketetapan Alllah tidak dapat ditangguhkan, jika kamu mengetahuinya.” QS. 71 Nuh : 3-4

5. Pertolongan

“.. dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” QS. 30 Ar Ruum : 47

“ Sesungguhnya (pertolongan) Alllah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” Qs. 16 An Nahl : 128

“….dan Alllah adalah pelindung dan penolong orang-orang yang bertakwa.” QS 45 Al Jatsiyah : 19

6. Ilmu pengetahuan

“… bertakwalah kepada Allah, niscaya Dia mengajari kamu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS 2 Al Baqoroh :282

“…. Sesungguhnya yang bertakwa kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama.” QS 35 Fathir : 28

7. Hidayah (petunjuk)

“Dan barang siapa yang ditunjuki Allah, dialah yang mendapat petunjuk.” QS 17 Al Isra’ : 97

“kitab (al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” QS. 2 al Baqoroh : 2)

Al Maroghi membagi hidayah Alllah dalam 4 kategori yaitu :
a. Hidayah ilham yaitu hidayah yang dianugerahkan kepada manusia sejak ia dilahirkan, contohnya apabila dia merasa lapar maka sang bayi akan menangis sebagai isyarat bahwa ia minta disusui.
b. Hidayah panca indera. Hidayah panca indera dan ilham yang dimiliki manusia tidak begitu sempurna jika dibandingkan dengan yang dimiliki binatang, karena hidayah tersebut telah sempurna sejak hewan dilahirkan, sedangkan manusia membutuhkan waktu dalam penyempurnaan kedua ilham tersebut.
c. Hidayah akal. Hidayah ini mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan hidayah ilham dan hidayah panca indera. Walaupun manusia telah memiliki hidayah ilham dan panca indera, tetapi hal tersebut tidaklah cukup bagi manusia, terlebih jika mengingat secara kodrati manusia meupakan makhluk social dan untuk memecahkan problematika social, manusia memerlukan hidayah akal yang menjadi filter terhadap informasi panca indera yang salah.
d. Hidayah agama.

Mengandalkan akal semata manusia tak akan pernah mencapai kesempurnaan dalam menembus sesuatu yang transedental dan akal tak akan pernah mencapai suatu kebenaran yang pasti. Agar manusia mempunyai tujuan yang pasti diperlukan hidayah agama yang membawa karunia Alllah bagi manusia.
Berdasarkan empat kategori hidayah ini Alllah memberikan dua jalan sebagaimana firmanNya :
“Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” QS. 90 Al Balad : 10
Dua jalan ini maksudnya jalan kebaikan dan jalan kejahatan. Untuk menempuh jalan kebaikan kita perlu hidayah ma’unah (pertolongan) dan taufiq sebagai jalan yang diperintahkan Allah. Firman Alllah :
“Tinjukilah kami jalan yang lurus.” QS 1 Al Fatihah : 6
8. Dicintai Allah

“ … maka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” QS 3 Ali Imran : 76

Kalimat inna allaha yuhibbul muttaqiin dalam ayat diatas terulang sebanyak 3 kali dalam al quran pertama termaktub dalam ayat diatas ( QS 3 Ali Imran : 76) kedua dalam QS 9 At Taubah : 4 dan ketiga terdapat dalam QS 9 At Taubah : 7

9. Memperoleh pemeliharaan dan penjagaan

“.. jika kamu bersabar dan bertakwa niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu…” QS 3 Ali Imran : 120

“… maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Pemelihara…” QS 12 Yusuf : 64

10. Pujian dari Allah

Suatu aksioma, bahwa yang benar akan mendapat pujian. Allah akan menghargai dan memuji orang-orang yang senantiasa melakukan hal-hal positif, diantara orang-orang bertakwa. Pujian dan penghargaan Allah selalu menyertai orang yang bertakwa karena ketakwaan merupakan suatu yang benar, baik dan positif, sebagaimana firman Allah :

“… jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu (sabar dan takwa) termasuk urusan yang patut diutamakan.” QS 3 Ali Imran : 186

11. Taufuk dalam mengerjakan amal sholeh

“… maka tidak diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan seimbang dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.” QS 28 Al Qoshosh : 84

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal perbuatanmu.” QS 33 Al Ahzab : 70-71

12. Pengampunan dosa

“.. dan siapalagi yang dapat mengampuni dosa (menutupi dosa) selain Allah…” QS 3 Ali Imran : 135

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal perbuatanmu dan mengampuni dosa-dosamu…” QS 33 Al Ahzab : 70-71

13. Ketenangan hati

“… maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” QS 7 Al A’rof : 35

14. Keselamatan dari kesusahan dan rezeki yang halal

“.. barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia mengadakan baginya solusi. Dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya.” QS 65 Ath-Tholaq : 2-3

15. Kemudahan urusan

“…. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” QS 2 Al Baqoroh : 185

“… dan kepada Allah-lah dikembalikan urusan semuanya..” QS 11 Hud : 123

16. Pahala yang berlipat ganda

“… dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” QS 65 Ath Tholaq : 5

“… karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka (bagimu) pahala yang sangat besar (dilipatganda).” QS 3 Ali Imran : 179

17. Kemenangan di dunia dan akhirat

“… dan barangsiapa mentaati Allah dan rasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan besar. QS 33 Al Ahzab : 71

“dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasulNya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya , maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” QS 24 An Nuur : 52
“sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan, yaitu kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Didalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta. Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.” QS 78 An Naba’ : 31-36

18. Memperoleh kemuliaan

“hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” QS 49 Al hujurat : 13

19. Amalnya diterima oleh Allah

“ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (habil dan qobil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (habil) dan tidak diterima dari yang lain (qobil). Ia (qobil) berkata : ‘aku pasti membunuhmu,’ habil berkata ; ‘sesungguhnya Allah hanya menerima korban dari orang-orang yang bertakwa.” QS 5 Al Maidah : 27

20. Keselamatan dari azab neraka

“…peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir.” QS 2 Al Baqoroh : 24

“dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian (kewajiban) yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dari neraka…” QS 19 Maryam : 71-72

21. Kekal didalam surga

“Katakanlah: ‘Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?‘ (yaitu)untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surge yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang suci serta mendapat keridaan dari Allah. “ QS 3 Ali Imran : 15

“dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surge yang luasnya seluar langit dan bumi yuang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” QS 3 Ali Imran : 133

“Orang-orang yang bertakwa itu balasan mereka ampunan dan surge yang didalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya..” QS 3 Ali Imran 136

Apa Pantas Berharap Surga?

Posted in Islam, Tausyiah dengan kaitan (tags) , , on 1 Desember 2009 by eidariesky

Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: “Kalau tidak terlambat” atau “Asal nggak bangun kesiangan”. Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?
Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.
Baca Qur’an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?
Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.
Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?
Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.
Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?
Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?
Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?
Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang sejak kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.
Astaghfirullaah …
catatan akhir ramadhan

Einsten, Ali, Barghouti dan Perjalanan ke Dalam Hati
“Aku ingin mengerti waktu karena aku ingin mendekati tuhan.” Kata-kata jujur itu terlontar dari mulut Albert Einsten puluhan tahun yang lalu. Besso, sang sahabat yang selalu menyediakan waktunya untuk mendengar ide-ide Einsten, hanya mampu terperangah kaget mendengar ungkapan hati sahabatnya itu. Ia selalu terpesona pleh ambisi-ambisi Einsten. Dalam usianya yang ke-26 saja, Einsten telah menyelesaikan tesis Ph.D, satu tulisan ilmiah tentang photon dan satu tulisan tentang gerak Brownian.
Proyek baru yang sedang dikerjakan oleh Einsten kini adalah konsepsi tentang relativitas waktu. Besso sama sekali tidak pernah menduga bahwa dibalik apa yang selama ini telah diraih oleh sahabatnya itu, ternyata Einsten masih menyimpan satu pencarian batin, yang ia tahu tidak akan pernah dapat dipecahkan secara empiris oleh sahabatnya itu. Keheningan menyelimuti kedua sahabat itu. Besso tidak tahu bagaimana ia harus menanggapi ungkapan hati sahabatnya. Besso hanya bisa berpaling ke arah bawah jembatan tempat mereka berada. Ia memandangi perahu berwarna keperakan dalam kemilau matahari senja di sungai Aare. Namun, raut wajah kerinduan untuk mendekati tuhan di wajah Einsten membuyarkan pemandangan indah senja itu. Besso merasa ganjil. Bagaimana mungkin orang yang selama ini terbiasa menyendiri dan sangat tertutup seperti Einsten memiliki kerinduan untuk mendekati Tuhan?
Setting cerita berpindah dari pemandangan dua orang sahabat pada suatu senja di jembatan sungai Aare, Jerman, ke suatu siang di tanah pertanian seluas 35 hektar di Berrien Springs, Michigan, puluhan tahun kemudian. Hari itu tanggal 11 September 2001. Muhammad Ali, sang petinju legendaris dan pemilik tanah pertanian tersebut sedang duduk di halaman rumahnya menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan seorang wartawan dari majalah Reader’s Digest, salah satu majalah beroplah tertinggi di dunia. Kejadian yang menyentak rakyat Amerika tadi pagi, runtuhnya WTC dan dituduhnya teroris muslim yang terlibat dalam aksi tersebut, membuat Muhammad Ali menerima begitu banyak tawaran wawancara. Pendapatnya sebagai seorang muslim tiba-tiba menjadi begitu penting dalam menanggapi kejadian tersebut.

RD : “Orang-orang muslim dituduh bertanggung jawab dalam penyerangan ke WTC pagi ini, bagaimana pendapat anda?”
Ali : “Saya marah karena orang-orang menuduh Islam yang menyebabkan kehancuran yang disebabkan oleh fanatik rasis ini. Pelakunya bukan orang-orang muslim, karena Islam adalah negara yang mencintai kedamaian. Islam sama sekali tidak mengajarkan terorisme ataupun membunuh orang.”
RD : “Bagaimana anda menjalani hidup sebagai seorang muslim di Amerika? Apa artinya keyakinan tersebut bagi anda?”
Ali : “Menjalani kehidupan sebagai seorang muslim di Amerika tidaklah mudah. Pertama kali saya mengumumkan keislaman saya, orang-orang berfikir itu adalah sesuatu yang lucu. Saya mengerti mereka berpendapat demikian karena perubahan drastis yang saya lakukan terhadap hidup saya. Namun, Islam bagi saya adalah sebuah tiket ke surga. Kita semua akan mati dan akan ada hari pembalasan. Adanya hari pembalasan tersebut dan keyakinan bahwa Tuhan selalu mengawasi apapun yang saya lakukan membuat saya lebih berhati-hati dalam melangkah dan memperlakukan orang lain. Saya selalu membawa sebungkus korek api kemanapun saya pergi. Setiap kali saya terdorong untuk melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya menurut keyakinan agama saya, saya menyalakan korek api tersebut dan merasakan panasnya api korek tersebut di jari-jari saya sampai saya kesakitan. Setelah itu, saya meyakinkan diri saya bahwa api neraka lebih panas daripada apa yang baru saya rasakan dan sifatnya abadi. Sayapun urung melakukan perbuatan dosa yang akan saya lakukan.”
Setting cerita berpindah lagi ke Timur Tengah, tepatnya di kota Ramallah, Palestina, pada tanggal 15 April 2002. Kota Ramallah dikejutkan oleh berita tertangkapanya sang tokoh Intifadah, Marwan Barghouti, oleh Israel. Bukan hanya kota Ramallah, seluruh Palestina dikejutkan oleh berita ini. Bahkan di Lebanon, kelompok Hizbullah bereaksi keras dengan memperingatkan Israel agar memperlakukan Barghouti secara manusiawi.
Bahkan, faksi yang berhasil mengusir Israel dari Lebanon Selatan pada Mei 2000 lalu itu, mengancam jika Barghouti disakiti, mereka akan membidik balik Sharon.
Marwan Barghouti, ayah tiga orang putra dan satu orang putri ini adalah seorang tokoh utama gerakan intifadah. Barghouti adalah pengganti Khalid Al-Wazir, alias Abu Jihad, seorang pendiri gerakan intifadah yang tewas diberondong peluru tentara Israel pada April 1988. Barghouti, seorang doktor di bidang politik kelahiran 1959 dan juga pengajar di Universitas Al-Quds ini, telah berjuang untuk bangsanya sejak ia masih muda. Bahkan Israel pernah menjebloskannya ke penjara sebelumnya selama enam tahun. Sejak 1978, berbagai upaya penangkapan dan pembunuhan telah dilancarkan Israel terhadap Barghouti, sampai akhirnya mujahid ini tertangkap 15 April lalu. Sampai sekarang tidak jelas apakah Barghouti masih hidup atau tidak, tetapi satu yang jelas bahwa gerakan intifadah di tanah Palestina tidak surut oleh tertangkapnya Barghouti.
Coba cermati. Tiga cerita diatas, walaupun memiliki setting, waktu, pelaku, bahkan alur yang berbeda, tetapi memiliki sebuah persamaan yang signifikan. Para pelaku dari ketiga cerita di atas memiliki suatu motor penggerak di dalam hati mereka masing-masing yang mendorong mereka untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan hati nurani mereka. Masing-masing dari mereka, Einsten, Ali dan Barghouti, menciptakan suatu karya fenomenal, melakukan suatu perubahan yang mengejutkan dan berjuang dengan mempertaruhkan nyawanya karena suatu alasan yang mereka anggap layak dan tepat. Mereka memiliki alasan yang kuat untuk melakukan itu semua.
Albert Einsten, mampu melahirkan suatu karya fenomenal yang membuatnya tetap dikenang hingga kini, yaitu Teori Relativitas, karena dorongan hatinya untuk lebih mengenal dan mendekat pada tuhan. Alasan ini cukup menyentuh, mengingat Einsten adalah seorang yahudi. Akan tetapi, tidak banyak yang tahu alasan utama dibalik keberhasilan Einsten dan Teori Relativitasnya tersebut. Ataukah hal ini memang sengaja ditutup-tutupi dan disembunyikan? Hanya Allah Yang Maha Tahu. Dan hanya Allah jugalah yang mampu mengetahui apakah ia telah berhasil menemukan pencarian batinnya tersebut sebelum ia meninggal. Bukankah hanya Allah lah yang memiliki kuasa untuk membolak-balikkan hati manusia? Ia akan memberikan hidayahNya hanya kepada orang-orang yang Ia anggap layak untuk menerima hidayah tersebut.
Muhammad Ali, yang bermetamorfosa dari seorang Cassius Clay yang identik dengan dunia glamour dan penuh kesenangan yang bersifat duniawi menjadi seorang muslim yang survive di negara dimana hedonisme berkiblat, yaitu Amerika dan kemudian melakukan perubahan yang luar biasa terhadap kehidupannya karena suatu alasan yang kuat. Ia berubah karena ia yakin telah menemukan kebenaran yang hakiki, yaitu islam, yang membawanya menemukan kedamaian. Ia dan korek api yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi telah cukup menggambarkan kepada kita keyakinannya terhadap keberadaan Allah dan terhadap adanya hari pembalasan.
Barghouti dan gerakan intifadahnya juga telah membuktikan bahwa rasa cinta terhadap Sang Khalik mampu mendorong seseorang untuk melakukan apa saja. Rasa cintanya tersebut ia anggap cukup layak untuk ia jadikan alasan melakukan suatu pengorbanan bahkan pengorbanan terbesar seperti mengorbankan nyawanya sekalipun. Kisah hidup tokoh intifadah ini menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan cinta, sehingga rasa cinta tersebut mampu menjadi suatu motor penggerak dalam kehidupan manusia.
Mudah-mudahan kita semua tidak terlalu arogan untuk mau sejenak bercermin terhadap ketiga kisah diatas dan mencoba untuk menata kembali rencana-rencana yang telah kita buat untuk memanfaatkan sisa hidup kita. Jangan pernah merasa enggan untuk bercermin dan mencoba berkata jujur kepada diri kita masing-masing, bahkan terhadap seorang yahudi seperti Einsten sekalipun. Bukankah filosofi Ibnu Sina mengajarkan kepada kita agar menggunakan pendekatan banyak arah untuk mencapai kebenaran? Lalu mengapa kita masih saja suka mempertahankan filosofi “kacamata kuda” Rene Descartes yang berpandangan satu arah?
Lakukanlah perjalanan ke dalam hati kita masing-masing dan coba tengok sejenak apakah yang selama ini telah memotivasi kita untuk melakukan segala aktivitas kita adalah murni karena Allah? Ataukah kita memberikan kavling yang lebih luas terhadap popularitas, gengsi, materi dan segala sesuatu selain Allah lainnya untuk menempati hati kita dan menjadi motor penggerak kehidupan kita? Hanya kitalah yang mampu menjawab pertanyaan tersebut. Cobalah untuk mendengarkan kata hati kita dan meluruskan kembali niat kita. Bukankah selama hidupnya Rasulullah juga lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Sejarah mencatat bahwa Rasulullah hampir tidak pernah berceramah. Khutbahnyapun tidak pernah lama. Lalu mengapa kita tidak coba meniru Rasulullah dengan mulai menjadi pendengar yang baik terhadap sesuatu yang sangat dekat dengan kita, yaitu hati nurani kita. Wallahu’alam bishawaab.