Imam Abu Hanifah pernah bercerita : “Ada seorang ilmuwan besar dari kalangan bangsa Romawi, tapi ia orang kafir. Ulama-ulama Islam membiarkan saja, kecuali seorang, yaitu Hammad guru Abu Hanifah, oleh karena itu dia segan bila bertemu dengannya. Pada hari kedua, manusia berkumpul di masjid, orang kafir itu naik mimbar dan mau mengadakan tukar pikiran dengan siapa saja, dia hendak menyerang ulama-ulama Islam. Di antara shof-shof masjid bangun seorang laki-laki muda, dialah Abu Hanifah, dan ketika sudah berada dekat depan mimbar, dia berkata :”Inilah saya, hendak tukar pikiran dengan tuan”. Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap merendahkan diri karena mudanya. Namun dia pun angkat bicara :”Katakan pendapat tuan!”. Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, lalu bertanya :”Masuk akalkah bila dikatakan bahwa ada pertama yang tidak apa-apanya sebelumnya?”. “Benar, tahukah tuan tentang hitungan?”, tanya Abu Hanifah. “Ya”. “Apa itu sebelum angka satu?”. “Ia adalah pertama, dan yang paling pertama. Tak ada angka lain sebelum angka satu”, jawab sang kafir itu. “Demikian pula Allah Swt”. “Di mana Dia sekarang? Sesuatu yang ada mesti ada tempatnya”, tanya si kafir tersebut. “Tahukah tuan bagaimana bentuk susu?”. “Ya”. “Adakah di dalam susu itu keju?”. “Ya”. “Di mana, di sebelah mana tempatnya keju itu sekarang?”, tanya Abu Hanifah. “Tak ada tempat yang khusus. Keju itu menyeluruh meliputi dan bercampur dengan susu!”, jawab ilmuwan kafir itu. “Begitu pulalah Allah, tidak bertempat dan tidak ditempatkan”, jelas Abu Hanifah. “Ke arah manakah Allah sekarang menghadap? Sebab segala sesuatu pasti punya arah?”, tanya orang kafir itu. “Jika tuan menyalakan lampu, ke arah manakah sinar lampu itu menghadap?”, tanya Abu Hanifah. “Sinarnya menghadap ke semua arah”. “Begitu pulalah Allah Pencipta langit dan bumi”. “Ya! Apa yang sedang Allah kerjakan sekarang?”. “Tuan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dari atas mimbar, sedangkan saya menjawabnya dari atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya mohon tuan turun dari atas mimbar dan saya akan menjawabnya di tempat tuan”, pinta Abu Hanifah. Ilmuwan kafir itu turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas. “Baiklah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa pekerjaan Allah sekarang?”. Ilmuwan kafir mengangguk. “Pekerjaan-Nya sekarang, ialah bahwa apabila di atas mimbar sedang berdiri seorang kafir seperti tuan, Dia akan menurunkannya seperti sekarang, sedangkan apabila ada seorang mu`min di lantai, dengan segera itu pula Dia akan mengangkatnya ke atas mimbar, demikian pekerjaan Allah setiap waktu”. Para hadirin puas dan begitu pula orang kafir itu.
DIALOG IMAM ABU HANIFAH
Posted in Renungan dengan kaitan (tags) Cerita Islami, Dialog, Imam Abu Hanifah, Kisah Islami on 15 Desember 2009 by eidarieskyKarunia ALLAH untuk orang yang bertaqwa
Posted in Dakwah, Petuah, Renungan, Tausyiah dengan kaitan (tags) Karunia, Taqwa, Tausyiah on 5 Desember 2009 by eidariesky
Karunia apa saja yang alllah berikan kepada kita jika kita bertakwa? Jika kita kaji dalam al qur’an maka karunia Alllah kepada orang bertakwa antara lain :
1. Keberkahan (Barokah)
Firman Alllah :
“jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa pastilah akan Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit.” QS.7 Al A’rof : 96
“Dan dikatakan kepada orang-orang bertakwa : ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?’ mereka menjawab: (Alllah telah menurunkan) kebaikan (berkah). Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampong akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang-orang yang bertakwa.” QS. 16 An Nahl : 30
2. Memperoleh Rahmat
Firman Alllah :
“.. dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” QS. 7: 156
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Alllah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Alllah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian ….” QS. 57 Al Hadid : 28
3. Kegembiraan dunia dan akhirat
“(wali-wali Allah, yaitu) orang-orang yang beriman dan bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. QS. 10 yunus : 63-64
4. Umur yang panjang
“…. (yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taat lah kepada-Ku, niscaya Alllah akan mengampuni dosa-dosamu dan menangguhkan (memanjangkan umur) kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya apabila telah dating ketetapan Alllah tidak dapat ditangguhkan, jika kamu mengetahuinya.” QS. 71 Nuh : 3-4
5. Pertolongan
“.. dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” QS. 30 Ar Ruum : 47
“ Sesungguhnya (pertolongan) Alllah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” Qs. 16 An Nahl : 128
“….dan Alllah adalah pelindung dan penolong orang-orang yang bertakwa.” QS 45 Al Jatsiyah : 19
6. Ilmu pengetahuan
“… bertakwalah kepada Allah, niscaya Dia mengajari kamu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS 2 Al Baqoroh :282
“…. Sesungguhnya yang bertakwa kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama.” QS 35 Fathir : 28
7. Hidayah (petunjuk)
“Dan barang siapa yang ditunjuki Allah, dialah yang mendapat petunjuk.” QS 17 Al Isra’ : 97
“kitab (al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” QS. 2 al Baqoroh : 2)
Al Maroghi membagi hidayah Alllah dalam 4 kategori yaitu :
a. Hidayah ilham yaitu hidayah yang dianugerahkan kepada manusia sejak ia dilahirkan, contohnya apabila dia merasa lapar maka sang bayi akan menangis sebagai isyarat bahwa ia minta disusui.
b. Hidayah panca indera. Hidayah panca indera dan ilham yang dimiliki manusia tidak begitu sempurna jika dibandingkan dengan yang dimiliki binatang, karena hidayah tersebut telah sempurna sejak hewan dilahirkan, sedangkan manusia membutuhkan waktu dalam penyempurnaan kedua ilham tersebut.
c. Hidayah akal. Hidayah ini mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan hidayah ilham dan hidayah panca indera. Walaupun manusia telah memiliki hidayah ilham dan panca indera, tetapi hal tersebut tidaklah cukup bagi manusia, terlebih jika mengingat secara kodrati manusia meupakan makhluk social dan untuk memecahkan problematika social, manusia memerlukan hidayah akal yang menjadi filter terhadap informasi panca indera yang salah.
d. Hidayah agama.
Mengandalkan akal semata manusia tak akan pernah mencapai kesempurnaan dalam menembus sesuatu yang transedental dan akal tak akan pernah mencapai suatu kebenaran yang pasti. Agar manusia mempunyai tujuan yang pasti diperlukan hidayah agama yang membawa karunia Alllah bagi manusia.
Berdasarkan empat kategori hidayah ini Alllah memberikan dua jalan sebagaimana firmanNya :
“Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” QS. 90 Al Balad : 10
Dua jalan ini maksudnya jalan kebaikan dan jalan kejahatan. Untuk menempuh jalan kebaikan kita perlu hidayah ma’unah (pertolongan) dan taufiq sebagai jalan yang diperintahkan Allah. Firman Alllah :
“Tinjukilah kami jalan yang lurus.” QS 1 Al Fatihah : 6
8. Dicintai Allah
“ … maka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” QS 3 Ali Imran : 76
Kalimat inna allaha yuhibbul muttaqiin dalam ayat diatas terulang sebanyak 3 kali dalam al quran pertama termaktub dalam ayat diatas ( QS 3 Ali Imran : 76) kedua dalam QS 9 At Taubah : 4 dan ketiga terdapat dalam QS 9 At Taubah : 7
9. Memperoleh pemeliharaan dan penjagaan
“.. jika kamu bersabar dan bertakwa niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu…” QS 3 Ali Imran : 120
“… maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Pemelihara…” QS 12 Yusuf : 64
10. Pujian dari Allah
Suatu aksioma, bahwa yang benar akan mendapat pujian. Allah akan menghargai dan memuji orang-orang yang senantiasa melakukan hal-hal positif, diantara orang-orang bertakwa. Pujian dan penghargaan Allah selalu menyertai orang yang bertakwa karena ketakwaan merupakan suatu yang benar, baik dan positif, sebagaimana firman Allah :
“… jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu (sabar dan takwa) termasuk urusan yang patut diutamakan.” QS 3 Ali Imran : 186
11. Taufuk dalam mengerjakan amal sholeh
“… maka tidak diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan seimbang dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.” QS 28 Al Qoshosh : 84
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal perbuatanmu.” QS 33 Al Ahzab : 70-71
12. Pengampunan dosa
“.. dan siapalagi yang dapat mengampuni dosa (menutupi dosa) selain Allah…” QS 3 Ali Imran : 135
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal perbuatanmu dan mengampuni dosa-dosamu…” QS 33 Al Ahzab : 70-71
13. Ketenangan hati
“… maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” QS 7 Al A’rof : 35
14. Keselamatan dari kesusahan dan rezeki yang halal
“.. barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia mengadakan baginya solusi. Dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya.” QS 65 Ath-Tholaq : 2-3
15. Kemudahan urusan
“…. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” QS 2 Al Baqoroh : 185
“… dan kepada Allah-lah dikembalikan urusan semuanya..” QS 11 Hud : 123
16. Pahala yang berlipat ganda
“… dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” QS 65 Ath Tholaq : 5
“… karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka (bagimu) pahala yang sangat besar (dilipatganda).” QS 3 Ali Imran : 179
17. Kemenangan di dunia dan akhirat
“… dan barangsiapa mentaati Allah dan rasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan besar. QS 33 Al Ahzab : 71
“dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasulNya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya , maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” QS 24 An Nuur : 52
“sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan, yaitu kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Didalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta. Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.” QS 78 An Naba’ : 31-36
18. Memperoleh kemuliaan
“hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” QS 49 Al hujurat : 13
19. Amalnya diterima oleh Allah
“ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (habil dan qobil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (habil) dan tidak diterima dari yang lain (qobil). Ia (qobil) berkata : ‘aku pasti membunuhmu,’ habil berkata ; ‘sesungguhnya Allah hanya menerima korban dari orang-orang yang bertakwa.” QS 5 Al Maidah : 27
20. Keselamatan dari azab neraka
“…peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir.” QS 2 Al Baqoroh : 24
“dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian (kewajiban) yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dari neraka…” QS 19 Maryam : 71-72
21. Kekal didalam surga
“Katakanlah: ‘Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?‘ (yaitu)untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surge yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang suci serta mendapat keridaan dari Allah. “ QS 3 Ali Imran : 15
“dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surge yang luasnya seluar langit dan bumi yuang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” QS 3 Ali Imran : 133
“Orang-orang yang bertakwa itu balasan mereka ampunan dan surge yang didalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya..” QS 3 Ali Imran 136
Apa Pantas Berharap Surga?
Posted in Islam, Tausyiah dengan kaitan (tags) Cerita Islami, Renungan, Tausyiah on 1 Desember 2009 by eidarieskySholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: “Kalau tidak terlambat” atau “Asal nggak bangun kesiangan”. Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?
Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.
Baca Qur’an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?
Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.
Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?
Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.
Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?
Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?
Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?
Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang sejak kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.
Astaghfirullaah …
catatan akhir ramadhan
Einsten, Ali, Barghouti dan Perjalanan ke Dalam Hati
“Aku ingin mengerti waktu karena aku ingin mendekati tuhan.” Kata-kata jujur itu terlontar dari mulut Albert Einsten puluhan tahun yang lalu. Besso, sang sahabat yang selalu menyediakan waktunya untuk mendengar ide-ide Einsten, hanya mampu terperangah kaget mendengar ungkapan hati sahabatnya itu. Ia selalu terpesona pleh ambisi-ambisi Einsten. Dalam usianya yang ke-26 saja, Einsten telah menyelesaikan tesis Ph.D, satu tulisan ilmiah tentang photon dan satu tulisan tentang gerak Brownian.
Proyek baru yang sedang dikerjakan oleh Einsten kini adalah konsepsi tentang relativitas waktu. Besso sama sekali tidak pernah menduga bahwa dibalik apa yang selama ini telah diraih oleh sahabatnya itu, ternyata Einsten masih menyimpan satu pencarian batin, yang ia tahu tidak akan pernah dapat dipecahkan secara empiris oleh sahabatnya itu. Keheningan menyelimuti kedua sahabat itu. Besso tidak tahu bagaimana ia harus menanggapi ungkapan hati sahabatnya. Besso hanya bisa berpaling ke arah bawah jembatan tempat mereka berada. Ia memandangi perahu berwarna keperakan dalam kemilau matahari senja di sungai Aare. Namun, raut wajah kerinduan untuk mendekati tuhan di wajah Einsten membuyarkan pemandangan indah senja itu. Besso merasa ganjil. Bagaimana mungkin orang yang selama ini terbiasa menyendiri dan sangat tertutup seperti Einsten memiliki kerinduan untuk mendekati Tuhan?
Setting cerita berpindah dari pemandangan dua orang sahabat pada suatu senja di jembatan sungai Aare, Jerman, ke suatu siang di tanah pertanian seluas 35 hektar di Berrien Springs, Michigan, puluhan tahun kemudian. Hari itu tanggal 11 September 2001. Muhammad Ali, sang petinju legendaris dan pemilik tanah pertanian tersebut sedang duduk di halaman rumahnya menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan seorang wartawan dari majalah Reader’s Digest, salah satu majalah beroplah tertinggi di dunia. Kejadian yang menyentak rakyat Amerika tadi pagi, runtuhnya WTC dan dituduhnya teroris muslim yang terlibat dalam aksi tersebut, membuat Muhammad Ali menerima begitu banyak tawaran wawancara. Pendapatnya sebagai seorang muslim tiba-tiba menjadi begitu penting dalam menanggapi kejadian tersebut.
RD : “Orang-orang muslim dituduh bertanggung jawab dalam penyerangan ke WTC pagi ini, bagaimana pendapat anda?”
Ali : “Saya marah karena orang-orang menuduh Islam yang menyebabkan kehancuran yang disebabkan oleh fanatik rasis ini. Pelakunya bukan orang-orang muslim, karena Islam adalah negara yang mencintai kedamaian. Islam sama sekali tidak mengajarkan terorisme ataupun membunuh orang.”
RD : “Bagaimana anda menjalani hidup sebagai seorang muslim di Amerika? Apa artinya keyakinan tersebut bagi anda?”
Ali : “Menjalani kehidupan sebagai seorang muslim di Amerika tidaklah mudah. Pertama kali saya mengumumkan keislaman saya, orang-orang berfikir itu adalah sesuatu yang lucu. Saya mengerti mereka berpendapat demikian karena perubahan drastis yang saya lakukan terhadap hidup saya. Namun, Islam bagi saya adalah sebuah tiket ke surga. Kita semua akan mati dan akan ada hari pembalasan. Adanya hari pembalasan tersebut dan keyakinan bahwa Tuhan selalu mengawasi apapun yang saya lakukan membuat saya lebih berhati-hati dalam melangkah dan memperlakukan orang lain. Saya selalu membawa sebungkus korek api kemanapun saya pergi. Setiap kali saya terdorong untuk melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya menurut keyakinan agama saya, saya menyalakan korek api tersebut dan merasakan panasnya api korek tersebut di jari-jari saya sampai saya kesakitan. Setelah itu, saya meyakinkan diri saya bahwa api neraka lebih panas daripada apa yang baru saya rasakan dan sifatnya abadi. Sayapun urung melakukan perbuatan dosa yang akan saya lakukan.”
Setting cerita berpindah lagi ke Timur Tengah, tepatnya di kota Ramallah, Palestina, pada tanggal 15 April 2002. Kota Ramallah dikejutkan oleh berita tertangkapanya sang tokoh Intifadah, Marwan Barghouti, oleh Israel. Bukan hanya kota Ramallah, seluruh Palestina dikejutkan oleh berita ini. Bahkan di Lebanon, kelompok Hizbullah bereaksi keras dengan memperingatkan Israel agar memperlakukan Barghouti secara manusiawi.
Bahkan, faksi yang berhasil mengusir Israel dari Lebanon Selatan pada Mei 2000 lalu itu, mengancam jika Barghouti disakiti, mereka akan membidik balik Sharon.
Marwan Barghouti, ayah tiga orang putra dan satu orang putri ini adalah seorang tokoh utama gerakan intifadah. Barghouti adalah pengganti Khalid Al-Wazir, alias Abu Jihad, seorang pendiri gerakan intifadah yang tewas diberondong peluru tentara Israel pada April 1988. Barghouti, seorang doktor di bidang politik kelahiran 1959 dan juga pengajar di Universitas Al-Quds ini, telah berjuang untuk bangsanya sejak ia masih muda. Bahkan Israel pernah menjebloskannya ke penjara sebelumnya selama enam tahun. Sejak 1978, berbagai upaya penangkapan dan pembunuhan telah dilancarkan Israel terhadap Barghouti, sampai akhirnya mujahid ini tertangkap 15 April lalu. Sampai sekarang tidak jelas apakah Barghouti masih hidup atau tidak, tetapi satu yang jelas bahwa gerakan intifadah di tanah Palestina tidak surut oleh tertangkapnya Barghouti.
Coba cermati. Tiga cerita diatas, walaupun memiliki setting, waktu, pelaku, bahkan alur yang berbeda, tetapi memiliki sebuah persamaan yang signifikan. Para pelaku dari ketiga cerita di atas memiliki suatu motor penggerak di dalam hati mereka masing-masing yang mendorong mereka untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan hati nurani mereka. Masing-masing dari mereka, Einsten, Ali dan Barghouti, menciptakan suatu karya fenomenal, melakukan suatu perubahan yang mengejutkan dan berjuang dengan mempertaruhkan nyawanya karena suatu alasan yang mereka anggap layak dan tepat. Mereka memiliki alasan yang kuat untuk melakukan itu semua.
Albert Einsten, mampu melahirkan suatu karya fenomenal yang membuatnya tetap dikenang hingga kini, yaitu Teori Relativitas, karena dorongan hatinya untuk lebih mengenal dan mendekat pada tuhan. Alasan ini cukup menyentuh, mengingat Einsten adalah seorang yahudi. Akan tetapi, tidak banyak yang tahu alasan utama dibalik keberhasilan Einsten dan Teori Relativitasnya tersebut. Ataukah hal ini memang sengaja ditutup-tutupi dan disembunyikan? Hanya Allah Yang Maha Tahu. Dan hanya Allah jugalah yang mampu mengetahui apakah ia telah berhasil menemukan pencarian batinnya tersebut sebelum ia meninggal. Bukankah hanya Allah lah yang memiliki kuasa untuk membolak-balikkan hati manusia? Ia akan memberikan hidayahNya hanya kepada orang-orang yang Ia anggap layak untuk menerima hidayah tersebut.
Muhammad Ali, yang bermetamorfosa dari seorang Cassius Clay yang identik dengan dunia glamour dan penuh kesenangan yang bersifat duniawi menjadi seorang muslim yang survive di negara dimana hedonisme berkiblat, yaitu Amerika dan kemudian melakukan perubahan yang luar biasa terhadap kehidupannya karena suatu alasan yang kuat. Ia berubah karena ia yakin telah menemukan kebenaran yang hakiki, yaitu islam, yang membawanya menemukan kedamaian. Ia dan korek api yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi telah cukup menggambarkan kepada kita keyakinannya terhadap keberadaan Allah dan terhadap adanya hari pembalasan.
Barghouti dan gerakan intifadahnya juga telah membuktikan bahwa rasa cinta terhadap Sang Khalik mampu mendorong seseorang untuk melakukan apa saja. Rasa cintanya tersebut ia anggap cukup layak untuk ia jadikan alasan melakukan suatu pengorbanan bahkan pengorbanan terbesar seperti mengorbankan nyawanya sekalipun. Kisah hidup tokoh intifadah ini menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan cinta, sehingga rasa cinta tersebut mampu menjadi suatu motor penggerak dalam kehidupan manusia.
Mudah-mudahan kita semua tidak terlalu arogan untuk mau sejenak bercermin terhadap ketiga kisah diatas dan mencoba untuk menata kembali rencana-rencana yang telah kita buat untuk memanfaatkan sisa hidup kita. Jangan pernah merasa enggan untuk bercermin dan mencoba berkata jujur kepada diri kita masing-masing, bahkan terhadap seorang yahudi seperti Einsten sekalipun. Bukankah filosofi Ibnu Sina mengajarkan kepada kita agar menggunakan pendekatan banyak arah untuk mencapai kebenaran? Lalu mengapa kita masih saja suka mempertahankan filosofi “kacamata kuda” Rene Descartes yang berpandangan satu arah?
Lakukanlah perjalanan ke dalam hati kita masing-masing dan coba tengok sejenak apakah yang selama ini telah memotivasi kita untuk melakukan segala aktivitas kita adalah murni karena Allah? Ataukah kita memberikan kavling yang lebih luas terhadap popularitas, gengsi, materi dan segala sesuatu selain Allah lainnya untuk menempati hati kita dan menjadi motor penggerak kehidupan kita? Hanya kitalah yang mampu menjawab pertanyaan tersebut. Cobalah untuk mendengarkan kata hati kita dan meluruskan kembali niat kita. Bukankah selama hidupnya Rasulullah juga lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Sejarah mencatat bahwa Rasulullah hampir tidak pernah berceramah. Khutbahnyapun tidak pernah lama. Lalu mengapa kita tidak coba meniru Rasulullah dengan mulai menjadi pendengar yang baik terhadap sesuatu yang sangat dekat dengan kita, yaitu hati nurani kita. Wallahu’alam bishawaab.